MOTIFASI PASKIBRA PEMBENTUK KEDISIPLINAN

LANGIT sedikit mendung. Awan gelap mulai menutupi langit. Namun, kesuraman itu tak menyurutkan niat lima perempuan muda alumni pasukan pengibar bendera pusaka (paskibaraka) Indonesia membagi ceritanya. Mereka tetap ceria menuturkan pengalamannya.

Kelima cantik itu Andi Ratna Patahangi, Chenceng Chery Subiansaury, Andi Afni Sirikit Pahlevi, Hasnidar Sudair, dan A Putri Fatimah Azzahara. Bagi mereka, butuh pengorbanan, usaha, keyakinan, serta tekad yang kuat untuk bisa menjadi anggota paskibraka.

Chenceng Chery Subiansaury, purnapaskibraka angkatan 1993, mengaku awalnya sama sekali tak memiliki pengetahuan baris berbaris. Keinginan menjadi paskibraka sebelumnya tak pernah terbesit di pikirannya.

Hingga pada satu hari, dia menyaksikan melalui layar kaca seorang perempuan yang membawa baki, bendera pusaka, kemudian dikibarkan. Dari situlah muncul niatnya menjadi paskibraka seperti yang disaksikannya di televise. itu,” aku Chery, sapaan kecil Chenceng Chery Subiansaury.

Chery, sapaan akrabnya, lalu bertekad menjadi pasukan pengibar bendera dan memberanikan diri meskipun hanya sebagai cadangan. “Saat itu saya perwakilan Parepare dan menjadi cadangan. Tapi itu tak membuat saya berkecil hati. Saya terus menyemangati diri,
” lanjut Chery.

Demi cita-cita menghadap presiden dan keinginan terlibat dalam pengibaran bendera merah putih, dia terus berusaha keras. Hingga kemudian teman seperjuangannya gugur dan ia terpilih pada saat tahapan seleksi.

“Dari sekian banyak peserta kemudian diciutkan menjadi 10 orang, kemudian lima besar dan seterusnya, terpilihlah saya mewakili Sulsel ke Jakarta,” kenang Chery.

Mengingat kenangan itu, Chery mengaku sangat bahagia. Betapa tidak, keinginan dan keyakinan yang kuat biasa membawanya menembus Paskibraka tingkat nasional.

Kenangan manis meskipun terasa pahit ketika menjalaninya juga dimiliki Andi Ratna Patahangi, Andi Afni Sirikit Pahlevi dan Hasnidar Sudair ketika masa karantina. Andi Afni Sirikit Pahlevi pernah terlambat bangun yang juga mengakibatkannya terlambat mandi dan makan.

Ketidakdisiplinan itu membuatnya mendapat hukuman dari pelatih. “Aturannya sangat ketat, tidak boleh telat, meskipun cuma satu menit saja. Betul-betul dilatih ala militer,” ungkap Kiki, sapaan Andi Afni Sirikit Pahlevi.

Andi Ratna Patahangi menceritakan kembali momen lomba bersih-bersih kamar. “Kamar paling bersih mendapat hadiah burung garuda, Peserta yang kalah harus memakai kalung dari tulang ayam,” ujar Andi Ratna, mengenang.

Bukan hanya Ratna saja yang pernah dikerumuni semut akibat bagian dalam tulang ayam itu terdapat banyak semut. Hasnidar Sudair juga pernah mengalaminya. Sanski diperolehnya, karena satu kamar terdiri dari tiga orang.

Pada sesi penilaian, kamar mereka tidak bersih. Maka “dihadiahilah” mereka tulang ayam. Perhiasan ini harus mereka pakai selama sehari,” ungkap Hasnidar Sudair.

Kendati mendapat hukuman, Nidar dan anggota paskibraka lainnya juga mendapat banyak pengalaman berharga yang tak terlupakan.

Lomba bersih-bersih kamar mengajarkan mereka kekompakan dan memperlihatkan bahwa semua saling membutuhkan satu sama lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s